Minggu, 28 Oktober 2012

Mimpi Untuk Dunia ^_^


Hari ini tanggal 11 september 2012, 6 buah handphone terus berbunyi tepat pukul 00.00 wib. Satu… dua… tiga…. Mimpi untuk Dunia….. itulah suara keenam sahabat berteriak di sebuah perkampungan. Seketika lampu rumah penduduk terus menyala, pintu-pintu terbuka dalam selang waktu yang bersamaan, para lelaki mulai berteriak, mengejar kami.
“kabur……” kata Fadil sambil berlari
Kamipun segera berlari dengan cepat mengikuti Fadil dengan ekspresi ketakutan di kejar warga. Waktu itu Fatur yang berbadan besar seketika berlari cepat. Seketika aku, Fadil, Fahri, Faisal, dan Fahma terkejut dan tertawa melihat Fatur dapat berlari kencang mengalahkan Fahma yang terkenal dengan larinya yang cepat, tak kami sadari ternyata warga semakin dekat dan satu… dua… tiga…. Lari….
Akhirnya kami bebas dari ketakutan dan sampai di Bukit Impian, yah itulah nama yang kami berikan kepada bukit tempat kami berikrar enam sahabat berbeda mimpi. Sebelum matahari hendak memberikan sinarnya kami berteriak kepada dunia ini dengan kencang “dunia kau kan kami dapatkan, bintang-bintang kau kan kami genggam, bulan cahayamu kan kami kalahkan karena pemimpi untuk dunia segera datang”
Yah suara yang kami harapkan melaju dengan kecepatan tinggi menjelajahi dunia melalui angin yang tertiup dan terdengar oleh seluruh homo sapiens di dunia ini supaya mereka bersiap melihat 6 sahabat menjadi pemimpin dunia. Senyuman manis terus terpancar dari wajah kami, genggaman tangan semakin erat, pelukan sahabat mengahangatkan pori-pori kulit ini. Saatnya berlari menuruni bukit menuju perkampungan.
“haduh apa yang akan terjadi?” Fahma bertanya kepada kami
“memang apa yang akan terjadi?” tanyaku kepada Fahma
Seketika Fahma menjelaskan “tadi warga mengikuti kita dengan penuh kemarahan karena kita berteriak diwaktu warga tertidur lelap” raut Fahma kebingungan
“haha ngapain kita harus takut” jawabku kepada Fahma sambil tersenyum
“iya bener tuh paling juga di suruh keliling kampung 5 putaran seperti dulu” jawab Fatur sambil menghela nafas karena lelah berlari tadi
“yaps betul banget F6 ko’ ketakutan gini” jawab Fahri
“senang,susah kita bersama” Fadil berkata sambil meyakinkan kami
Akhirnya gerbang desa terlihat mendekat terus mendekat, dan disana sudah ada kepala kampung menunggu dengan para lelaki di belakangnya
“siap-siap deh kita kena marah” Fahma berbisik dengan suara pelan
“Faris cepat kau maju hadapi Kepala Kampung” tangan teman-temanku mendorong tubuhku yang sedang letih
“iya-iya aku kan maju” jawabku dengan tegas
Yah itulah sensasi dari pemimpin harus maju ketika menghadapi masalah, harus melindungi anggota dan masih banyak lagi. Pertama ku tarik nafas panjang dan mengeluarkan sejuta karbondioksida yang sulit ku hitung, genggaman tanganku semakin kuat, ayo maju Faris hati ku selalu berkata. Akhirnya ku langkahkan kaki ini menuju kepala kampung
“Pak Munajat” suaraku sedikit pelan dengan mata tertunduk kebawah
“Apa yang kau dan teman-temanmu lakukan nak?” Pak Munajat bersuara dengan penuh kebijaksanaan
Sementara para warga sudah kesal, dan ingin meluapkannya kepada kami
“Kemarin kami merayakan kebersamaan kami di tengah malam, dan maaf kami telah mengganggu ketenangan semua yang telah terlelap dengan nyenyaknya” jawabku sambil menatap dengan penuh keyakinan
“ya sudah kalau memang begitu, kau telah mewakili teman-temanmu untuk meminta maaf, dan kalian tahu kan apa hukuman yang sering kalian lakukan?” jawab kepala kampung
“iya Pak kami sudah tahu mengelilingi kampung sebanyak 5 putaran” jawabku
“bukan hanya itu kalian harus membersihkan seluruh sampah setiap sore dan berlari 5 putaran mengeliling kampung selama sebulan” kata Pak Munajat
“yah ditambah lagi cape banget dong” Fatur berkata sambil melihat Fahma
“ah dasar kamu Fatur, biar langsing tuh perut” jawab Fahma sambil tersenyum
“baik Pak, kami terima seluruh hukuman itu, dan kepada warga kami mohon maaf atas semua kejahilan kami serta perilaku kami” jawab ku dengan penuh bijaksana
“iya seluruh warga telah memaafkan kalian” jawab Pak Munajat sambil menepuk punggunngku
Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman
Warga pun bubar dari sebuah pengakuan 6 sahabat yang telah mengganggu tidur mereka. Kami pun berkumpul kembali, yah terasa lega setelah berakhirnya kejadian tadi. Kami tertawa bersama dan melihat mata kami seperti mata panda karena ada lingkaran hitam tanda kurang tidur. Seketika mulut kami menguap, jalan sudah mau jatuh, mata kami menjadi sipit.
“cape banget nih masbro” Fadil berkata
Kami tetap menyusuri gang-gang untuk menuju tempat berkumpul kami
“iya bener banget tuh, liat mataku sudah tak dapat terbuka dengan stabil” jawab faisal sambil jarinya menunjuk kepada matanya
“ah kalian semua payah, liat dong sang pemimpin ini masih sangat tegang” kata Fahri sambil memegang bahuku dan menyentuh kepalaku
“aku memang masih tegang, meskipun kelakuan kita suka buat marah warga tapi baru kali ini kita langsung harus berhadapan dengan Pak Munajat” jawab ku sambil menarik nafas
“ah sudah-sudah berhenti nanti kita lama sampai di saungnya” jawab Faisal
Faisal adalah orang yang paling bijaksana diantara kami dan perhatian kepada sahabat-sahabatnya
“cie cie sang bijak mulai berkata” kata Fatur sambil menggoda Faisal
Akhirnya kami sampai dan 6 buah bantal mulai berserakan di saung. Penat ini ingin segera terhilangkan, matahari semakin menantang dengan cahayanya yang terus naik ke tengah-tengah langit. Namun karena lelah sekali kami masih memaafkan mu matahari dan tertidur dengan pulas untuk mengisi amunisi supaya tidak lelah harus melakukan hukuman nanti.
Suara detik waktu terus terdengar namun bukan suara jam yang membangunkan ku, handphone pun bukan, tapi duet nyanyian ngorok Fatur dan Fahma. Yah seolah menonton konser K-POP di Gelora Bung Karno. Nada rendah Fatur di balas nada tinggi Fahma dan Fadil pun malah ikut-ikutan ngorok. Haduh sudah kayak 3 Mega Stars di konser yang satu tiketnya 200 juta. Akhirnya Faisal dan Fahri pun terbangun dengan mata yang masih ngantuk.
“Aduh 3 orang ini tidur ko’ kayak konser” Faisal berkata dengan kesalnya
“haduh nih anak mau gue kasih garem” Fahri berkata dengan mata yang terbuka sedikit dengan pelafalan kata yang tidak begitu jelas
“gimana kalau kita kerjain?” saranku kepada Faisal dan Fahri
“ah gue setuju banget” jawab Fahri
“kasih aja garam trus tempelin di bibir mereka” Faisal memberikan idenya
“ok, aku ambil dulu garamnya”
Aku, Faisal dan Fahri sudah menahan tawa ketika hendak memberikan garam pada bibir 3 Mega Star ngorok itu. Aku mengoleskan garam kepada Fatur, Faisal kepada Fahma, dan Fahri kepada Fadil. Seketika mereka terbangun dari tidurnya dan mengejar kami sambil mengucapkan kata-kata dengan tak jelas kami dengar. Berlari dengan kencang, melaju seperti cita yang berlari di padang rumput. Namun sekencang kami berlari, Fahma yang baru terbangun lebih kencang larinya dari pada kami. Hap, tertangkaplah Faisal oleh pelukan keras Fahma. Seketika aku dan Fahri tertawa melihat Faisal yang akan mendapatkan balasan dari Fahma. Lari, lari dan berlari itulah yang aku lakukan bersama Fahri sedang dibelakang kami mengikuti Fatur dan Fadil. Ketika aku menengok kebelakang ternyata hanya ada Fatur yang berlari penuh keringat yang keluar dari seluruh tubuhnya. Aku dan Fahri hanya bisa tertawa dengan sedikit memelankan kecepatan lari kami. Ketika aku menengok kedepan ternyata sudah ada Fadil bersiap menangkap kami berdua. Tak ada cara untuk aku dan Fahri keluar dari tekanan mereka selain terbang keatas, namun kami tak punya sayap, bahkan aku tak menyangka Fadil dengan kecerdikannya membuat kami terkejut. Hap aku tertangkap oleh Fadil dan Fahri di tangkap oleh Fatur. Kami berdua diseret mendekati Faisal yang telah ditangkap oleh Fahma, meskipun merasa bersalah tapi kami ingin terus tersenyum mengingat ekspresi mereka ketika menjilat garam yang kami oleskan.
Tibalah kami di sebuah sungai yang bersih dan warna yang jernih. Matahari terus menantang dengan cahaya yang sangat panas dan berada diatas kepala kami. Blubuk blubuk blubuk seperti suara air dalam aquarium ikan, itulah suara air disaat aku, Faisal dan Fahri masuk kedalamnya. Fadil, Fahma dan Fatur tertawa dengan keras melihat kami basah kuyup. Mereka pun menarik tangan kami dan mengembalikan kami ke darat dengan seluruh tubuh di basahi air sungai. Kami pun ingin balas dendam kepada mereka.Dengan saling menatap dan terseyum aku, Faisal dan Fahri menarik tangan mereka dengan waktu yang bersamaan. Akhirnya kami sang Pemimpi untuk Dunia tercebur ke dalam sungai dengan bersama-sama.
“ber…. seger banget” Fahma berkata sambil kedinginan
“ayo kita pulang perutku sudah dangdutan”kata Fatur sambil memegang perutnya
“ah dasar kau Fatur, perut mulu yang di pikirin aku juga lapar ayo kita pulang” balasan Fahri sambil tersenyum atas ajakan
“sudah-sudah jangan banyak bicara kita adu cepat pulang saja lalu makan dirumah masing-masing dan nanti sore jangan lupa kita berkumpul di balai RW” Faisal berkata
“siap” kami berkata dengan kencang dan berbarengan sambil mengangkat tangan seperti hormat kepada Sang Merah Putih
“satu… dua…. tiga…” aku memberikan aba-aba untuk pulang
2 jam sudah kami beristirahat, dan harus berkumpul di balai RW. Sesampainya aku di balai RW, ternyata belum ada seorangpun temanku yang sudah sampai. Aku pun hanya menunggu di teras balai RW menunggu teman-teman datang dan melakukan hukuman yang diberikan. Tiba-tiba Pak Munajat datang bersama Fahma dan berkata
“kau sudah lama disini?” Fahma bertanya kepadaku
“iya aku sudah 20 menit menunggu di teras” jawabku
“Keluargamu tidak memberitahumu?” Tanya Pak Munajat dengan seriusnya
“tadi ketika aku selesai mandi ibuku pergi dengan terburu-buru menuju rumah tetangga dan aku tak tahu siapa tetangga yang akan dia datangi” penjelasanku
Fahma tiba-tiba mengeluarkan air mata dan memelukku dengan erat. Dengan suara pelan Fahma membisikkan kata kepadaku “Faisal telah meninggal” itu kata yang terucap dari bibir Fahma
Seketika tubuh ini lemas seolah tulang-tulang tak menegakkan badan ini. Akupun menangis dipelukan Fahma. Aku teringat kenangan-kenangan bersama Faisal sang Pemimpi yang Bijak itu, dan air mataku pun turun membasahi baju Fahma. Pak Munajat pun mengajakku untuk bertemu dengan Faisal untuk yang terakhir kalinya. Tapi rasa tak percaya masih terus berkata dalam hatiku namun semua itu terjawab ketika di gang menuju rumah Faisal terdapat bendera kuning. Rasa tak percaya ditinggalkan sahabat secepat ini membuatku hanya bisa terdiam melihat rumah Faisal. Dan terpaku sambil memegang pagar itulah yang bisa kulakukan. Fatur, Fadil, dan Fahri telah ada dirumah duka berdiam di pojok rumah sambil menangis dan berpegangan tangan dengan erat. Bau kamperpun terus menusuk di lubang hidung ini, namun itulah wangi terakhir dari Faisal.
“ayo kita menemui Faisal” kata Fahma
“iya mungkin dia sudah rindu ingin bertemu kita sebelum dia pergi” jawab Fadil sambil menahan tangis
Kami pun pergi melihat Faisal dan menangis sambil mengatakan apa saja yang harus dia dengar dari mulut sahabatnya. Sampai akhirnya Faisal dimakamkan kami terus mengantarkannya mengiringi jalan-jalan dunia yang terakhir kali dia akan lewati. Butir-butir tanah terus berjatuhan begitu pula air mata kami terus mengalir bersamaan. Kami pun memutuskan untuk bertemu dengan keluarga Faisal dan berbincang-bincang sekedar menghilangkan rasa sedih ini.
Bukit Impian telah kehilangan seorang Pemimpi yang ingin menjadi psikolog untuk memperbaiki moral bangsa yang sekarang telah kembali untuk pulang bertemu dengan sang Pencipta. Teriakan kemarin adalah teriakan terakhir 6 Pemimpi namun bukan akhir dari teriakan 5 Pemimpi yang masih mencoba untuk tetap melaju pada tracknya masing-masing, Sebuah pelajaran hidup yang selalu Faisal ajarkan akan menjadi sebuah kisah klasik untuk di kenang dan di bangga-banggakan di masa depan.
5 tahun berlalu sekarang adalah tahun 2017 tepat tanggal 11 september, 5 Pemimpi datang lagi ke bukit Impian untuk melihat apakah mereka telah mendapatkan mimpi-mimpi mereka. Berjalanlah kami menyusuri jalanan yang masih berupa tanah yang sama seperti dulu menggenggam tangan, bercanda sebentar dan berlari saling mengejar untuk mengenang masa lalu. Meskipun ada yang kurang tapi kami yakin Faisal telah meraih mimpinya yang mungkkin tak pernah kami tahu apa mimpi itu. Botol-botol yang tergantung di batang pohon mendekat dan terus mendekat, tulisan yang tertempel pun terus mendekat. Satu orang mengambil satu botol dan kertas untuk membacakan mimpi-mimpi untuk dunia yang di tulis 5 tahun yang lalu.
“hom pim pah layum gambreng ma ijah pake baju rombeng” ucapan kami
Akhirnya aku mendapat giliran pertama, aku boleh membawa 2 botol dan 2 kertas. Fahma mendapat giliran kedua, Fadil mendapat giliran ketiga, Fatur giliran keempat, dan Fahri mendapat giliran yang terakhir
“cap cip cup kembang kuncup” kataku sambil menunjuk dengan jariku
“kau seperti anak kecil pak Presiden” saut Fahri sambil tertawa
“haha ayolah cepat ambil dan berdiri di belakang” Kata Fahma
“waw karena seorang pelari tingkat dunia jadi ingin cepat-cepat?” kata Fadil
“sudah-sudah ayo cepat” kata Fatur
Segeralah aku mengambil, kemudian dilanjutkan oleh teman-teman yang lain. Impian-impian itu telah ada di tangan saatnya membacakan
“mimpiku yang pertama ingin menjadi seorang pelari tingkat dunia yang mendapat banyak gelar dan penghargaan, yang kedua mendirikan sekolah pelari tingkat internasional di Indonesia, yang ketiga semoga cintaku di terima oleh Raisya, keempat ku berharap keluargaku bangga akan diriku, yang kelima aku ingin bersama sahabat-sahabatku dan berkumpul lagi di bukit ini, yang keenam semoga saja pohon ini tak ada yang menebang dan mimpi-mimpiku yang lain tak akan ku beritahu kepada kalian hahahaha” mimpi Fahma yang dibacakan oleh Fadil
“mimpiku yang pertama ingin menjadi seorang pengusaha yang berhasil meraih banyak penghargaan dan membantu orang-orang yang kesusahan, yang kedua aku ingin kuliah jurusan ekonomi di luar negeri, yang ketiga aku ingin memberikan sebuah mobil untuk Bapak dan Ibu, yang keempat semoga Santi menyukaiku juga dan mau menungguku sampai aku pulang kembali, yang kelima dan seterusnya aku tak mau memberi tahu kepada kalian ini rahasia” mimpiku yang dibacakan Fatur
“mimpiku menjadi seorang ilmuwan di bidang biologi, aku ingin memiliki laboratorium sendiri, terkenal di dunia, aku ingin sekolah ke luar negeri, mendirikan rumah sakit, kuharap Hasya menjadi asisten pribadiku dan selalu berada disampingku, mimpi yang lainnya nanti menyusul hahaha” mimpi Fadil yang dibacakan oleh Fahma
“mimpiku mempunyai sanggar seni pribadi, setiap puisi tentang Karina ku harap dia membacanya, mendirikan sekolah seni, bisa tampil di luar negeri, dan masih banyak lagi” mimpi Fatur yang di bacakan oleh Fahri
“mimpiku ingin menjadi pelukis tingkat internasional, seluruh karyaku dapat diterima oleh banyak orang, cerita-cerita pendek yang kubuat dapat di terbitkan di seluruh dunia, kuharap Belfa dapat menerima lukisan wajahnya yang kubuat sendiri dan masih banyak lagi mimpi ku” mimpi Fahri yang dibacakan olehku
Seluruh mimpi itu membuat kami tertawa karena pasti ada seorang perempuan yang kami suka di sebutkan di dalam mimpi itu. Wajah kami pun menjadi seperti tomat berwarna merah. Namun tersisa satu kertas mimpi di tanganku, mereka langsung melihat kertas yang masih tergulung itu. Rasa penasaran seakan tergurat dari wajah kami dan siap menerima semua yang dimimpikan oleh Faisal sahabat yang telah pergi. Akupun membacakan isi mimpi itu.
“mimpiku yang pertama aku ingin menjadi orang yang hidup lebih lama di dunia ini menemani keluargaku dengan senyumanku, yang kedua aku ingin jujur kepada sahabatsahabatku bahwa aku terkena penyakit mematikan tapi semua itu sulit di wujudkan aku tak ingin melihat binar mata mereka menjadi mata yang berkaca-kaca, yang ketiga aku ingin sahabatku bangga karena telah mengenalku, yang keempat aku ingin mewarnai dunia dengan mimpi-mimpi dan harapanku dan yang terakhir aku mohon jangan panggil namaku sekarang” mimpi Faisal yang dibacakan olehku dengan menahan air mata
Raut wajah menangis terus terpancar dari wajah kami. Tak di sangka siBijak yang pandai memaknai hidup ternyata dia menghadapi hal yang sulit. Waktu itu Faisal wajahnya semakin pucat kami hanya selalu menganggap bahwa dia berubah menjadi pipi susu ternyata itu adalah penurunan kondisinya. Kami termenung terdiam dan mengeluarkan air mata.
Fatur berdiri dan berkata “dia sahabat yang baik”
“ayo kita alirkan mimpi-mimpi dalam botol ini nanti botol ini akan berlabuh di suatu tempat yang kita sendiri tak tahu tempat itu dimana dan tancapkan kertas-kertas mimpi di pohon impian” Fahma berkata
“ayo kita ke sungai tempat terakhir kita bercanda lima tahun yang lalu bersama Faisal” kataku sambil mengajak sahabat-sahabatku
Sebelum kami pergi ke sungai, kami menancapkan mimpi kertas itu di pohon impian yang abadi. Berlari dengan penuh semangat saling adu cepat menuju sungai tempat terakhir bercanda bersama Faisal. Semakin mendekat dan terus mendekat ke sungai penuh kenangan klasik semakin bercucuran air mata. Akhirnya kami sampai dan langsung masuk kesungai itu, mengenang masa lalu bersama Faisal dan dengan sekuat tenaga melemparkan botol impian ini untuk melaju di track mimpi yang sulit namun harus pasti bisa dilalui. Badan kami semuanya basah namun kami masih ingin berenang disini dan berkata dengan sekeras mungkin
“mimpi untuk dunia” sekeras mungkin kami berkata sambil tersenyum bangga.

Sabtu, 18 Agustus 2012

HANTU by.WIKIPEDIA™

Minggu, 29 April 2012

Perjuangan Indonesia

1945

[sunting]Kembalinya Belanda bersama Sekutu

[sunting]Latar belakang terjadinya kemerdekaan

Sesuai dengan perjanjian Wina pada tahun 1942, bahwa negara-negara sekutu bersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini didudukiJepang pada pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah pendudukannya.
Menjelang akhir perang, tahun 1945, sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah mendaratkan pasukannya di Makasar dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah diduduki oleh Australia sebelum Jepang menyatakan menyerah kalah. SementaraPulau Morotai dan Irian Barat bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).
Setelah perang usai, tentara Australia bertanggung jawab terhadap Kalimantan dan Indonesia bagian Timur, Amerika Serikat menguasai Filipina dan tentaraInggris dalam bentuk komando SEAC (South East Asia Command) bertanggung jawab atas IndiaBurmaSrilankaMalayaSumatraJawa dan Indocina. SEAC dengan panglima Lord Mountbatten sebagai Komando Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara bertugas melucuti bala tentera Jepang dan mengurus pengembalian tawanan perang dan tawanan warga sipil sekutu (Recovered Allied Prisoners of War and Internees/RAPWI).

[sunting]Mendaratnya Belanda diwakili NICA

Berdasarkan Civil Affairs Agreement, pada 23 Agustus 1945 Inggris bersama tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh. 15 September 1945, tentara Inggris selaku wakil Sekutu tiba di Jakarta, dengan didampingi Dr. Charles van der Plas, wakil Belanda pada Sekutu. Kehadiran tentara Sekutu ini, diboncengi NICA (Netherland Indies Civil Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J van Mook, ia dipersiapkan untuk membuka perundingan atas dasar pidato siaran radio Ratu Wilhelmina tahun 1942 (statkundige concepti atau konsepsi kenegaraan), tetapi ia mengumumkan bahwa ia tidak akan berbicara dengan Soekarno yang dianggapnya telah bekerja sama dengan Jepang. Pidato Ratu Wilhemina itu menegaskan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran yang di antara anggotanya ialah Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda, di bawah pimpinan Ratu Belanda.

[sunting]Pertempuran melawan Sekutu dan NICA

Terdapat berbagai pertempuran yang terjadi pada saat masuknya Sekutu dan NICA ke Indonesia, yang saat itu baru menyatakan kemerdekaannya. Pertempuran yang terjadi di antaranya adalah:
  1. Peristiwa 10 November, di daerah Surabaya dan sekitarnya.
  2. Palagan Ambarawa, di daerah AmbarawaSemarang dan sekitarnya.
  3. Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur
  4. Bandung Lautan Api, di daerah Bandung dan sekitarnya.
  5. Pertempuran Medan Area, di daerah Medan dan sekitarnya.
  6. Pertempuran Margarana, di Bali
  7. Serangan Umum 1 Maret 1949, di Yogyakarta
  8. Pertempuran Lima Hari Lima Malam, di Palembang

[sunting]Ibukota pindah ke Yogyakarta

Karena situasi keamanan ibukota Jakarta (Batavia saat itu) yang makin memburuk, maka pada tanggal 4 Januari 1946Soekarno dan Hatta dengan menggunakan kereta api, pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan ibukota. Meninggalkan Sutan Syahrir dan kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda diJakarta.[1]
Pemindahan ke Yogyakarta dilakukan dengan menggunakan kereta api, yang disebut dengan singkatan KLB (Kereta Luar Biasa). Orang lantas berasumsi bahwa rangkaian kereta api yang digunakan adalah rangkaian yang terdiri dari gerbong-gerbong luar biasa. Padahal yang luar biasa adalah jadwal perjalanannya, yang diselenggarakan di luar jadwal yang ada, karena kereta dengan perjalanan luar biasa ini, mengangkut Presiden beserta Wakil Presiden, dengan keluarga dan staf, gerbong-gerbongnya dipilihkan yang istimewa, yang disediakan oleh Djawatan Kereta Api (DKA) untuk VVIP.[2]

[sunting]1946

[sunting]Perubahan sistem pemerintahan

Pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno adalah salah satu faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil menjadiparlementer. Gelagat ini sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945Soekarnosebagai kepala pemerintahan republik diganti oleh Sutan Sjahrir yang seorang sosialis dianggap sebagai figur yang tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomatik, bertepatan dengan naik daunnya partai sosialis di Belanda.
Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (dari sistem Presidensiil menjadi sistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara pihak RI dan Belanda. Dalam pandangan Inggris dan BelandaSutan Sjahrir dinilai sebagai seorang moderat, seorang intelek, dan seorang yang telah berperang selama pemerintahan Jepang.

[sunting]Diplomasi Syahrir

Ketika Syahrir mengumumkan kabinetnya15 November 1945, Letnan Gubernur Jendral van Mook mengirim kawat kepada Menteri Urusan Tanah Jajahan (Minister of Overseas Territories, Overzeese Gebiedsdelen), J.H.A. Logemann, yang berkantor di Den Haag: "Mereka sendiri [Sjahrir dan Kabinetnya] dan bukan Soekarno yang bertanggung jawab atas jalannya keadaan". Logemann sendiri berbicara pada siaran radio BBC tanggal 28 November 1945, "Mereka bukan kolaborator seperti Soekarno, presiden mereka, kita tidak akan pernah dapat berurusan dengan Dr Soekarno, kita akan berunding dengan Sjahrir". Tanggal 6 Maret 1946kepada van Mook, Logemann bahkan menulis bahwa Soekarno adalah persona non grata.
Pihak Republik Indonesia memiliki alasan politis untuk mengubah sistem pemerintahan dari Presidensiil menjadi Parlementer, karena seminggu sebelum perubahan pemerintahan itu, Den Haag mengumumkan dasar rencananya. Ir Soekarno menolak hal ini, sebaliknya Sjahrir mengumumkan pada tanggal 4 Desember 1945 bahwa pemerintahnya menerima tawaran ini dengan syarat pengakuan Belanda atas Republik Indonesia.
Tanggal 10 Februari 1946, pemerintah Belanda membuat pernyataan memperinci tentang politiknya dan menawarkan mendiskusikannya dengan wakil-wakil Republik yang diberi kuasa. Tujuannya hendak mendirikan persemakmuran Indonesia, yang terdiri dari daerah-daerah dengan bermacam-macam tingkat pemerintahan sendiri, dan untuk menciptakan warga negara Indonesia bagi semua orang yang dilahirkan di sana. Masalah dalam negeri akan dihadapi dengan suatu parlemen yang dipilih secara demokratis dan orang-orang Indonesia akan merupakan mayoritas. Kementerian akan disesuaikan dengan parlemen tetapi akan dikepalai oleh wakil kerajaan. Daerah-daerah yang bermacam-macam di Indonesia yang dihubungkan bersama-sama dalam suatu susunan federasi dan persemakmuran akan menjadi rekan (partner) dalam Kerajaan Belanda, serta akan mendukung permohonan keanggotaan Indonesia dalam organisasi PBB.
Pada bulan April dan Mei 1946, Sjahrir mengepalai delegasi kecil Indonesia yang pergi berunding dengan pemerintah Belanda di Hoge Veluwe. Lagi, ia menjelaskan bahwa titik tolak perundingan haruslah berupa pengakuan atas Republik sebagai negara berdaulat. Atas dasar itu Indonesia baru mau berhubungan erat dengan Kerajaan Belanda dan akan bekerja sama dalam segala bidang. Karena itu Pemerintah Belanda menawarkan suatu kompromi yaitu: "mau mengakui Republik sebagai salah satu unit negara federasi yang akan dibentuk sesuai dengan Deklarasi 10 Februari".
Sebagai tambahan ditawarkan untuk mengakui pemerintahan de facto Republik atas bagian Jawa dan Madura yang belum berada di bawah perlindungan pasukan Sekutu. Karena Sjahrir tidak dapat menerima syarat-syarat ini, konferensi itu bubar dan ia bersama teman-temannya kembali pulang.
Tanggal 17 Juni 1946Sjahrir mengirimkan surat rahasia kepada van Mook, menganjurkan bahwa mungkin perundingan yang sungguh-sungguh dapat dimulai kembali. Dalam surat Sjahrir yang khusus ini, ada penerimaan yang samar-samar tentang gagasan van Mook mengenai masa peralihan sebelum kemerdekaan penuh diberikan kepada Indonesia; ada pula nada yang lebih samar-samar lagi tentang kemungkinan Indonenesia menyetujui federasi Indonesia - bekas Hindia Belanda dibagi menjadi berbagai negara merdeka dengan kemungkinan hanya Republik sebagai bagian paling penting. Sebagai kemungkinan dasar untuk kompromi, hal ini dibahas beberapa kali sebelumnya, dan semua tokoh politik utama Republik mengetahui hal ini.
Tanggal 17 Juni 1946, sesudah Sjahrir mengirimkan surat rahasianya kepada van Mook, surat itu dibocorkan kepada pers oleh surat kabar di Negeri Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1946van Mookmengirim kawat ke Den Haag: "menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, usul balasan (yakni surat Sjahrir) tidak disetujui oleh Soekarno dan ketika dia bertemu dengannya, dia marah. Tidak jelas, apa arah yang akan diambil oleh amarah itu". Pada waktu yang sama, surat kabar Indonesia menuntut dijelaskan desas-desus tentang Sjahrir bersedia menerima pengakuan de facto Republik Indonesia terbatas pada Jawa dan Sumatra.

[sunting]Penculikan terhadap PM Sjahrir

Tanggal 27 Juni 1946, dalam Pidato Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Wakil Presiden Hatta menjelaskan isi usulan balasan di depan rakyat banyak di alun-alun utama Yogyakarta, dihadiri oleh Soekarno dan sebagian besar pucuk pimpinan politik. Dalam pidatonya, Hatta menyatakan dukungannya kepada Sjahrir, akan tetapi menurut sebuah analisis, publisitas luas yang diberikan Hatta terhadap surat itu, menyebabkan kudeta dan penculikan terhadap Sjahrir.
Pada malam itu terjadi peristiwa penculikan terhadap Perdana Menteri Sjahrir, yang sudah terlanjur dicap sebagai "pengkhianat yang menjual tanah airnya". Sjahrir diculik di Surakarta, ketika ia berhenti dalam perjalanan politik menelusuri Jawa. Kemudian ia dibawa ke Paras, kota dekat Solo, di rumah peristirahatan seorang pangeran Solo dan ditahan di sana dengan pengawasan Komandan Batalyon setempat.
Pada malam tanggal 28 Juni 1946Ir Soekarno berpidato di radio Yogyakarta. Ia mengumumkan, "Berhubung dengan keadaan di dalam negeri yang membahayakan keamanan negara dan perjuangan kemerdekaan kita, saya, Presiden Republik Indonesia, dengan persetujuan Kabinet dan sidangnya pada tanggal 28 Juni 1946, untuk sementara mengambil alih semua kekuasaan pemerintah". Selama sebulan lebih, Soekarno mempertahankan kekuasaan yang luas yang dipegangnya. Tanggal 3 Juli 1946Sjahrir dibebaskan dari penculikan; namun baru tanggal 14 Agustus 1946, Sjahrir diminta kembali untuk membentuk kabinet.

[sunting]Kembali menjadi PM

Tanggal 2 Oktober 1946Sjahrir kembali menjadi Perdana Menteri, Sjahrir kemudian berkomentar, "Kedudukan saya di kabinet ketiga diperlemah dibandingkan dengan kabinet kedua dan pertama. Dalam kabinet ketiga saya harus berkompromi dengan Partai Nasional Indonesia dan Masyumi... Saya harus memasukkan orang seperti Gani dan Maramis lewat Soekarno; saya harus menanyakan pendapatnya dengan siapa saya membentuk kabinet."

[sunting]Konferensi Malino - Terbentuknya "negara" baru

Bulan Juni 1946 suatu krisis terjadi dalam pemerintahan Republik Indonesia, keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang telah mengusai sebelah Timur Nusantara. Dalam bulan Juni diadakan konferensi wakil-wakil daerah di Malino, Sulawesi, di bawah Dr. Van Mook dan minta organisasi-organisasi di seluruh Indonesia masuk federasi dengan 4 bagian; Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Timur Raya.

[sunting]1946-1947

[sunting]Peristiwa Westerling

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Westerling. Peristiwa ini terjadi pada Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).

[sunting]Perjanjian Linggarjati

Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah halangan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan membantu Van Mook dalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral seorang komisi khusus InggrisLord Killearn. Bertempat di bukit Linggarjati dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris- dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok pokoknya sebagai berikut :
  • Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi SumatraJawa dan MaduraBelanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari1949,
  • Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia
  • Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagian Uni Indonesia-Belanda bersama dengan BelandaSuriname dan Curasao. Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewat arbitrase.
Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung pemarafan secara resmiPerundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak beres.

[sunting]Peristiwa yang terjadi terkait dengan hasil perundingan Linggarjati

Parade Tentara Republik Indonesia (TRI) di Purwakarta,Jawa Barat, pada tanggal 17 Januari 1947.
Pada bulan Februari dan Maret 1947 di Malang, S M Kartosuwiryo ditunjuk sebagai salah seorang dari lima anggota Masyumi dalam komite Eksekutif, yang terdiri dari 47 anggota untuk mengikuti sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), dalam sidang tersebut membahas apakah Persetujuan Linggarjati yang telah diparaf oleh Pemerintah Republik dan Belanda pada bulan November 1946 akan disetujui atau tidak Kepergian S M Kartosoewirjo ini dikawal oleh para pejuang Hizbullah dari Jawa Barat, karena dalam rapat tersebut kemungkinan ada dua kubu yang bertarung pendapat sangat sengit, yakni antara sayap sosialis (diwakili melalui partai Pesindo), dengan pihak Nasionalis-Islam (diwakili lewat partai Masyumi dan PNI). Pihak sosialis ingin agar KNPI menyetujui naskah Linggarjati tersebut, sedang pihak Masyumi dan PNI cenderung ingin menolaknya Ketika anggota KNIP yang anti Linggarjati benar-benar diancam gerilyawan Pesindo, Sutomo (Bung Tomo) meminta kepada S M Kartosoewirjo untuk mencegah pasukannya agar tidak menembaki satuan-satuan Pesindo.
DR H J Van Mook kepala Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda, dengan gigih memecah RI yang tinggal 3 pulau ini Bahkan sebelum naskah itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, *28 ia telah memaksa terwujudnya Negara Indonesia Timur, dengan presiden Sukowati, lewat Konferensi Denpasar tanggal 18 - 24 Desember 1946
Pada bulan tanggal 25 Maret 1947 hasil perjanjian Linggarjati ditandatangani di Batavia Partai Masyumi menentang hasil perjanjian tersebut, banyak unsur perjuang Republik Indonesia yang tak dapat menerima pemerintah Belanda merupakan kekuasaan berdaulat di seluruh Indonesia 29 Dengan seringnya pecah kekacauan, maka pada prakteknya perjanjian tersebut sangat sulit sekali untuk dilaksanakan.

[sunting]Proklamasi Negara Pasundan

Usaha Belanda tidak berakhir sampai di NIT. Dua bulan setelah itu, Belanda berhasil membujuk Ketua Partai Rakyat Pasundan, Soeria Kartalegawa, memproklamasikan Negara Pasundan pada tanggal 4 Mei 1947. Secara militer negara baru ini sangat lemah, ia benar benar sangat tergantung pada Belanda, tebukti ia baru eksis ketika Belanda melakukan Agresi dan kekuatan RI hengkang dari Jawa Barat.
Di awal bulan Mei 1947 pihak Belanda yang memprakarsai berdirinya Negara Pasundan itu memang sudah merencanakan bahwa mereka harus menyerang Republik secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan. Namun mereka pun menyadari begitu besarnya biaya yang ditanggung untuk pemeliharaan suatu pasukan bersenjata sekitar 100.000 serdadu di Jawa, yang sebagian besar dari pasukan itu tidak aktif, merupakan pemborosan keuangan yang serius yang tidak mungkin dipikul oleh perekonomian negeri Belanda yang hancur diakibatkan perang. Oleh karena itu untuk mempertahankan pasukan ini maka pihak Belanda memerlukan komoditi dari Jawa (khususnya gula) dan Sumatera (khususnya minyak dan karet).

[sunting]Agresi Militer I

Pada tanggal 27 Mei 1947Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari, yang berisi:
  1. Membentuk pemerintahan ad interim bersama;
  2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama;
  3. Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerahdaerah yang diduduki Belanda;
  4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama); dan
  5. Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor
Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik.
Ketika jawaban yang memuaskan tidak kunjung tiba, Belanda terus "mengembalikan ketertiban" dengan "tindakan kepolisian". Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam (tepatnya 21 Juli 1947) mulailah pihak Belanda melancarkan 'aksi polisionil' mereka yang pertama.
Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekali dimana mereka telah menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten), dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diamankan. Melihat aksi Belanda yang tidak mematuhi perjanjian Linggarjati membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada bulan Juli 1947 dengan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena sebelumnya dia sangat menyetujui tuntutan Belanda dalam menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.
Menghadapi aksi Belanda ini, bagi pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur dalam kebingungan dan hanya menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan. Dan bagi Belanda, setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan keinginan untuk melanjutkan aksinya kembali. Beberapa orang Belanda, termasuk van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan membentuk suatu pemerintahan Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang menjadi sekutunya tidak menyukai 'aksi polisional' tersebut serta menggiring Belanda untuk segera menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.

[sunting]Naiknya Amir Syarifudin sebagai Perdana Menteri

Setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli, pengganti Sjahrir adalah Amir Syarifudin yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri, dia menggaet anggota PSII yang dulu untuk duduk dalam Kabinetnya. Termasuk menawarkan kepada S.M. Kartosoewirjo untuk turut serta duduk dalam kabinetnya menjadi Wakil Menteri Pertahanan kedua. Seperti yang dijelaskan dalam sepucuk suratnya kepada Soekarno dan Amir Syarifudindia menolak kursi menteri karena "ia belum terlibat dalam PSII dan masih merasa terikat kepada Masyumi".
S.M. Kartosoewirjo menolak tawaran itu bukan semata-mata karena loyalitasnya kepada Masyumi. Penolakan itu juga ditimbulkan oleh keinginannya untuk menarik diri dari gelanggang politik pusat. Akibat menyaksikan kondisi politik yang tidak menguntungkan bagi Indonesia disebabkan berbagai perjanjian yang diadakan pemerintah RI dengan Belanda. Di samping itu Kartosoewirjo tidak menyukai arah politik Amir Syarifudin yang kekiri-kirian. Kalau dilihat dari sepak terjang Amir Syarifudin selama manggung di percaturan politik nasional dengan menjadi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan sangat jelas terlihat bahwa Amir Syarifudin ingin membawa politik Indonesia ke arah Komunis.

[sunting]1948

[sunting]Perjanjian Renville

Sementara peperangan sedang berlangsung, Dewan Keamanan PBB, atas desakan Australia dan India, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal 1 Agustus 1947, dan segera setelah itu mendirikan suatu Komisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari wakil-wakil Australia, Belgia dan Amerika Serikat, untuk menengahi perselisihan itu .
Tanggal 17 Januari 1948 berlangsung konferensi di atas kapal perang Amerika Serikat, Renville, ternyata menghasilkan persetujuan lain, yang bisa diterima oleh yang kedua belah pihak yang berselisih. Akan terjadi perdamaian yang mempersiapkan berdirinya zone demiliterisasi Indonesia Serikat akan didirikan, tetapi atas garis yang berbeda dari persetujuan Linggarjati, karena plebisit akan diadakan untuk menentukan apakah berbagai kelompok di pulau-pulau besar ingin bergabung dengan Republik atau beberapa bagian dari federasi yang direncanakan Kedaulatan Belanda akan tetap atas Indonesia sampai diserahkan pada Indonesia Serikat.
Pada tanggal 19 Januari ditandatangani persetujuan Renville Wilayah Republik selama masa peralihan sampai penyelesaian akhir dicapai, bahkan lebih terbatas lagi ketimbang persetujuan Linggarjati : hanya meliputi sebagian kecil Jawa Tengah (Jogja dan delapan Keresidenan) dan ujung barat pulau Jawa -Banten tetap daerah Republik Plebisit akan diselenggarakan untuk menentukan masa depan wilayah yang baru diperoleh Belanda lewat aksi militer. Perdana menteri Belanda menjelaskan mengapa persetujuan itu ditandatangani agar Belanda tidak "menimbulkan rasa benci Amerika".
Sedikit banyak, ini merupakan ulangan dari apa yang terjadi selama dan sesudah perundingan Linggarjati. Seperti melalui persetujuan Linggarjati, melalui perundingan Renville, Soekarno dan Hatta dijadikan lambang kemerdekaan Indonesia dan persatuan Yogyakarta hidup lebih lama, jantung Republik terus berdenyut. Ini kembali merupakan inti keuntungan Seperti sesudah persetujuan Linggarjati, pribadi lain yang jauh dari pusat kembali diidentifikasi dengan persetujuan -dulu Perdana Menteri Sjahrir, kini Perdana Menteri Amir- yang dianggap langsung bertanggung jawab jika sesuatu salah atau dianggap salah.

[sunting]Runtuhnya Kabinet Amir dan naiknya Hatta sebagai Perdana Menteri

Dari adanya Agresi Militer I dengan hasil diadakannya Perjanjian Renville menyebabkan jatuhnya Kabinet Amir. Seluruh anggota yang tergabung dalam kabinetnya yang terdiri dari anggota PNI danMasyumi meletakkan jabatan ketika Perjanjian Renville ditandatangani, disusul kemudian Amir sendiri meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Dengan pengunduran dirinya ini dia mungkin mengharapkan akan tampilnya kabinet baru yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin suatu 'kabinet presidentil' darurat (1948-1949), dimana seluruh pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.
Dengan terpilihnya Hatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orang PNIMasyumi, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai. Amirdan kelompoknya dari sayap kiri kini menjadi pihak oposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat para pengikut Sjahrir mempertegas perpecahan mereka dengan pengikut-pengikut Amir dengan membentuk partai tersendiri yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada bulan Februari 1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada pemerintah Hatta.
Memang runtuhnya Amir datang bahkan lebih cepat ketimbang Sjahrir, enam bulan lebih dulu Amir segera dituduh -kembali khususnya oleh Masyumi dan kemudian Partai Nasional Indonesia- terlalu banyak memenuhi keinginan pihak asing. Hanya empat hari sesudah Perjanjian Renville ditandatangani, pada tanggal 23 Januari 1948Amir Syarifudin dan seluruh kabinetnya berhenti. Kabinet barudibentuk dan susunannya diumumkan tanggal 29 Januari 1948Hatta menjadi Perdana Menteri sekaligus tetap memangku jabatan sebagai Wakil Presiden.
Tampaknya kini lebih sedikit jalan keluar bagi Amir dibanding dengan Sjahrir sesudah Perundingan Linggarjati; dan lebih banyak penghinaan. Beberapa hari sesudah Amir berhenti, di awal Februari 1948, Hatta membawa Amir dan beberapa pejabat Republik lainnya mengelilingi ProvinsiAmir diharapkan menjelaskan Perjanjian Renville. Pada rapat raksasa di BukittinggiSumatra Barat, di kota kelahiran Hatta -dan rupanya diatur sebagai tempat berhenti terpenting selama perjalananHatta berbicara tentang kegigihan Republik, dan pidatonya disambut dengan hangat sekali.
Kemudian Amir naik mimbar, dan seperti diuraikan Hatta kemudian: "Dia tampak bingung, seolah-olah nyaris tidak mengetahui apa ayang harus dikatakannya. Dia merasa bahwa orang rakyat Bukittinggi tidak menyenanginya, khususnya dalam hubungan persetujuan dengan Belanda. Ketika dia meninggalkan mimbar, hampir tidak ada yang bertepuk tangan"
Menurut peserta lain: "Wajah Amir kelihatannya seperti orang yang sudah tidak berarti". Sjahrir juga diundang ke rapat Bukittinggi ini; dia datang dari Singapura dan berpidato. Menurut Leon Salim -kader lama Sjahrir- "Sjahrir juga kelihatan capai dan jarang tersenyum". Menurut kata-kata saksi lain, "Seolah-olah ada yang membeku dalam wajah Sjahrir" dan ketika gilirannya berbicara "Dia hanya mengangkat tangannya dengan memberi salam Merdeka dan mundur". Hatta kemudian juga menulis dengan singkat tentang pidato Sjahrir: "Pidatonya pendek". Dipermalukan seperti ini, secara psikologis amat mungkin menjadi bara dendam yang menyulut Amir untuk memberontak di kemudian hari.
Perjanjian Renville tidak lebih baik daripada perundingan di Linggarjati. Kedua belah pihak menuduh masing-masing melanggar perdamaian, dan Indonesia menuduh Belanda mendirikan blokade dengan maksud memaksanya menyerah. Bulan Juli 1948Komisi Jasa-jasa Baik, yang masih ada di tempat mengawasi pelaksanaan persetujuan itu, melaporkan bahwa Indonesia mengeluh akan gencatan senjata yang berulang-ulang.

[sunting]1948-1949                                             

[sunting]Agresi Militer II

Agresi Militer II terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakartaibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan SoekarnoMohammad HattaSjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

[sunting]Perjanjian Roem Royen

Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada Belanda, terutama dari pihak Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan bantuannya kepada Belanda, akhirnya dengan terpaksa Belanda bersedia untuk kembali berunding dengan RI. Pada tanggal 7 Mei 1949Republik Indonesia dan Belanda menyepakati Perjanjian Roem Royen.

[sunting]Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta

Serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III -dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat- berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI -berarti juga Republik Indonesia- masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.

[sunting]Serangan Umum Surakarta

Serangan Umum Surakarta berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. Serangan itu menyadarkan Belanda bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi.

[sunting]Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den HaagBelanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Yang menghasilkan kesepakatan:

[sunting]Penyerahan kedaulatan oleh Belanda

Bung Hatta di AmsterdamBelandamenandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan.
Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, selang empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Pengakuan ini dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana DamAmsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (Aksi Polisionil) pada 1945-1949 adalahilegal.